Nabi Muhammad Rasulullah saw diDalam Pandangan non Muslim

Pada saat ini orang-orang (khususnya non-Muslim) banyak mengajukan berbagai macam keberatan dan kritikan terhadap diri Rasulullah saw atau terhadap ajaran beliau. Hal itu disebabkan karena hati mereka kosong dari keadilan atau mereka tidak tahu sedikit pun tentang sirah (riwayat hidup) Rasulullah s.a.w., atau mereka tidak mau berusaha sedikitpun untuk mengetahui riwayat hidup beliau saw. Maka kewajiban kitalah untuk mengemukakan riwayat hidup Rasulullah s.a.w. yang sangat beberkat itu kepada dunia. Dan untuk melaksanakan hal itu kita harus menggunakan berbagai sarana dan prasarana.



Adalah fitrat manusia bahwa dia akan lebih mudah mendengar pendapat tentang sesuatu dari orang-orang yang sama atau sebangsa daripada mendengar dari orang lain. Dan terkait dengan Rasulullah saw orang-orang non-Muslim akan lebih terpengaruh oleh pendapat bangsa mereka sendiri dari pada harus mendengar tentang Rasulullah s.a.w. dari seorang Islam. Oleh sebab itu sudut pandang tentang sirah Rasulullah s.a.w. yang ditulis oleh cendekiawan atau para penulis yang terkenal dari bangsa mereka sendiri harus diperdengarkan langsung kepada mereka.


Pada hari ini saya akan membacakan Sirah Rasulullah s.a.w. yang disusun oleh orang-orang Barat yang terkesan oleh Sirah atau kepribadian Rasulullah s.a.w.. Diantara mereka memang merupakan musuh Islam dan giat memusuhi Islam namun mereka telah menulis dengan jujur tentang sirah Rasulullah s.a.w..

Pendapat Positif tentang Nabi Muhammad s.a.w.: 

George Sale dan Spanhemius

George Sale, seorang penulis yang menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Inggris telah menulis di bukunya ‘The Koran’ di bagian ‘The Reader’. Bagian itu bukan dalam rangka membenarkan tentang Islam.
Begitu pula seorang penulis bernama Spanhemius. Ia juga seorang penentang Islam. Tapi  ia menulis,


”Muhammad [s.a.w.]  memiliki kemampuan fitrati yang sangat luhur, sangat rupawan, cerdas dan berpandangan jauh ke depan, sangat disegani dan pencinta serta pelindung orang-orang miskin. Dalam menghadapi musuh selalu berada  di garis depan dengan gagah berani. Yang sangat menonjol adalah beliau sangat menjunjung tinggi, sangat menghormati dan mencintai Tuhannya. Membenci orang-orang pendusta, pelaku maksiat, orang-orang pelaku ghibat dan pelaku sumpah dusta, pemboros, serakah dan sangat keras menentang pelanggar hukum dan pemberi kesaksian dusta. Sangat tegas mengajar kejujuran, dermawan, kasih-sayang, rasa syukur, menghormati orang tua dan para leluhur, dan sangat sibuk dalam memuji keagungan Tuhan.”  [1]

Semua orang yang menulis ini (sekalipun telah menyatakan pujian-pujian yang sangat baik), di tempat lainnya juga melemparkan tuduhan-tuduhan yang tidak wajar kepada Rasulullah s.a.w..

Pendapat: Stanley Lane-Poole;  H. G Wells  dan De Lace O’Leary


Penulis lain Stanley Lane-Poole telah menulis;
"Beliau memaafkan orang-orang Qurays untuk tahun-tahun kesedihan dan cemoohan kejam yang telah ditimpakan mereka kepada beliau, dan memberikan pengampunan kepada seluruh penduduk Mekkah.. Dengan demikian Muhammad [saw] kembali memasuki kota kelahirannya. Dari semua sejarah penaklukan tidak ada kemenangan yang sebanding dengan yang satu ini." [2]

H. G Wells seorang penulis sejarah (sejarawan) telah menulis dalam bukunya yang  berjudul ‘Outline of History’,


Sebuah bukti kebenaran yang besar tentang Nabi ini adalah bahwa orang yang paling banyak mengetahui tentang pribadi beliau-lah yang pertama beriman kepada beliau… Muhammad [s.a.w.] sekali-kali bukanlah seorang pendusta… Dan hakikat ini tidak dapat dibantah bahwa dalam dalam Islam terdapat banyak sekali kelebihan dan keistimewaan dan memiliki banyak sekali sifat yang agung…. Nabi Islam ini telah meletakkan asas  kemasyarakatan dimana kezaliman dan kekejaman telah dihapuskan.” [3]

Selanjutnya, De Lace O’Leary dalam bukunya ‘Islam at the Cross roads’ (Islam di Persimpangan-Persimpangan Jalan) menulis:



“Sejarah telah dengan terbuka menyatakan bahwa bagi para ahli sejarah adanya kisah yang menyebut kaum Muslimin demikian menyukai kekerasan lalu mendapatkan kemenangan serta memaksakan Islam diantara bangsa-bangsa dengan pedang merupakan sebuah kisah aneh dan mengherankan.”  [4]
Demikianlah yang ditulis oleh para sejarawan, bahwa kemenangan dengan pedang adalah mustahil. Ini cerita yang aneh.

Pendapat: Mahatma Gandi ; Letnan Jenderal Sir John Bagot Glubb

Mahatma Gandi di dalam suratkabar ‘Young India’ menulis:


Saya ingin sekali mengetahui segala sesuatu mengenai manusia itu yang telah memerintah jutaan orang tanpa penentangan. Setelah mempelajari kehidupannya, bertambahlah saya yakin bahwa di zaman itu Islam telah memenangkan hati orang-orang tidak dengan pedang, akan tetapi dengan kesederhanaan sang Rasul itu, beliau biasa bekerja dengan riang gembira, sangat teguh dan teliti dalam memenuhi janji, sangat erat hubungannya dengan sahabat dan pengikutnya, pemberani dan sangat meyakini sempurnanya misinya, inilah hal-hal yang membuat beliau dapat menyingkirkan semua kesulitan dan semua orang menyertainya. Ketika saya telah menyelesaikan bab kedua membaca buku mengenai perjalanan hidup Rasul ini, saya pun menjadi demikian bersedih dikarenakan telah tamatnya buku itu." [5]

Letnan Jenderal Sir John Bagot Glubb yang wafat pada tahun 1986 menulis:


Pendapat apapun yang dikemukakan oleh pembaca buku (yang ditulis oleh beliau) tidak dapat diingkari bahwa Muhammad [s.a.w.] mempunyai persamaan pengalaman rohaniah dengan para leluhur dan orang-orang suci Kristen yang sangat mengherankan telah tercatat dalam Kitab Perjanjian lama dan Kitab Perjanjian baru.     
Boleh jadi mempunyai persamaan dengan para leluhur dan orang-orang suci penerima wahyu dan kasyaf dari agama Hindu dan Agama-agama lainnya juga. Lagi pula, pengalaman seperti itu merupakan tanda bagi permulaan kehidupan orang-orang suci dan mulia. Menganggap peristiwa-peristiwa seperti itu sebagai penipuan diri sendiri nampaknya sebuah penilaian yang tidak patut, sebab banyak sekali pengalaman seperti itu dialami oleh orang-orang suci yang sudah lampau yang telah beribu tahun lamanya dan ribuan mil jauhnya yang tidak pernah diketahui atau pernah didengar oleh satu sama lain. Namun, sekalipun demikian, dalam peristiwa-peristiwa itu terdapat persamaan satu sama lain yang luar biasa. Sebuah pendapat tidak masuk akal apabila persamaan semua ru’ya atau kasyaf yang sangat mengherankan itu dianggap telah dibuat-buat oleh diri mereka sendiri. Sekalipun mereka saling tidak mengenal satu sama lain.” [6]

Selanjutnya dia telah menulis tentang orang-orang Muslim awalin yang ke hijrah ke Abessinia katanya:
“Dari daftar dapat diketahui bahwa semua orang yang telah masuk Islam pergi ke Abyssinia dan Muhammad [s.a.w.] tentu tinggal bersama dengan hanya beberapa orang pengikut saja di tengah-tengah masyarakat Mekkah yang sedang keras memusuhi beliau. Dari keadaan demikian membuktikan bahwa beliau [s.a.w.] memiliki standar tinggi dalam hal akhlak, keberanian serta keyakinan yang sangat tangguh.” 

Pendapat: John William Draper; William Montgomery

John William Draper di dalam bukunya ‘History of The Intelectual Development of Europe’ menulis:


“Empat tahun setelah kematian Justinian, A.D. 569 di Mekkah Arabia, telah lahir seorang yang telah meninggalkan banyak sekali kesan agung terhadap manusia dan dia adalah Muhammad [s.a.w.], yang kebanyakan orang-orang Eropa menganggapnya ‘pendusta’. .. Akan tetapi beliau memiliki kelebihan dan keistimewaan yang telah menentukan perjalanan nasib berbagai bangsa. Beliau seorang prajurit yang bertabligh, mempunyai kefasihan berbicara sangat tinggi dan gagah berani di medan peperangan. Agama beliau hanyalah “Tuhan adalah Tunggal” (Ikhtisar agama hanya satu yaitu Tuhan itu Satu)… Untuk menjelaskan kebenaran ini, beliau tidak  membahas dengan lisan saja, namun beliau membuat masyarakat Islam lebih baik dengan mengajar para pengikutnya dalam praktik tentang kebersihan, rajin menunaikan shalat, melaksanakan puasa dan amal-amal saleh lainnya. Beliau mengutamakan derma diatas perkara-perkara lainnya.”  [7]

William Montgomery seorang Orientalis telah menulis didalam sebuah bukunya ‘Muhammad at Medina’,


“Lebih banyak merenungkan Sirat Muhammad [s.a.w.] dan Tarikh awal permulan Islam, manusia akan merasa lebih kagum dan heran menyaksikan kemenangan dan kemajuan sangat luas yang telah diraih oleh beliau. Situasi seperti pada waktu itu telah dijumpai oleh beliau yang sangat jarang sekali dijumpai oleh orang-orang lain, sehingga beliau seorang insan yang sangat cocok dan sesuai sekali dengan keadaan zaman pada waktu itu. Jika beliau tidak mempunyai pandangan jauh ke depan, sebagai negarawan, tidak mempunyai kemampuan yang istimewa untuk menjalankan pemerintahan, tidak tawakkal kepada Allah dan tidak yakin sepenuhnya bahwa Allah Ta’ala telah mengutus beliau [s.a.w.] maka kisah kehidupan beliau yang sangat penting dan patut dikenang itu akan terlupakan oleh Tarikh.
Saya sangat berharap semoga hasil penelitian riwayat hidup beliau yang saya susun ini akan menolong dan menambah segar dalam memberikan penilaian dan penghargaan terhadap salah seorang Bani Adam yang sangat agung dan sangat mulia ini.” [8]
Perlu diketahui bahwa kesaksian mengenai Nabi [s.a.w.] ini diberikan oleh seorang yang tidak pernah melihat sendiri Nabi s.a.w..

Pendapat  Reginald Bosworth Smith

Selanjutnya, sejarawan Kristen terkenal, Reginald Bosworth Smith, telah menulis:


“Sebagai Pemimpin agama dan negara, dan berkualitas sebagai Governor (bakat dan kemampuan memerintah), dan dua kepribadian Raja dan Kaisar telah terkumpul dalam satu pribadi Muhammad [s.a.w.]. Beliau seorang Pope (Paus) tapi tanpa kebesaran sebagai Pope, beliau seorang Kaisar namun tanpa pasukan kebesaran Kaisar. Jika di dunia ada orang yang berhak berkata bahwa tanpa pasukan tentara pengawal kebesaran, tanpa pasukan Pengawal Istana dan tanpa pengawal pribadi, hanya atas nama Allah Ta’ala menegakkan keamanan dan kedamaian di atas dunia, maka tiada lain orang itu hanyalah Muhammad [s.a.w.]. Beliau memperoleh semua kekuatan tanpa dukungan siapapun.” [9]

Selanjutnya R. Bosworth Smith menulis dalam bukunya ‘Muhammad and Muhammadanism’:

“Orang-orang yang mula-mula sekali menerima misi beliau adalah orang-orang yang betul-betul tahu pribadi beliau [s.a.w.], misalnya istri beliau, hamba sahaya beliau, saudara sepupu beliau dan sahabat beliau sejak lama. Tentang mana [] Muhammad [s.a.w.] sendiri berkata, ‘Diantara orang-orang yang mula-mula masuk Islam adalah manusia-manusia nomor satu yang tidak pernah mundur dalam menghadapi setiap jenis rintangan dan tidak pernah menyatakan gelisah.’ Seperti utusan-utusan Tuhan lainnya, takdir [] Muhammad [s.a.w.] tidaklah kecil [biasa saja], sebab, yang menolak keagungan beliau hanyalah orang-orang yang tidak mempunyai pengetahuan yang benar tentang jati diri beliau s.a.w..” [10]
Selanjutnya Bosworth juga menulis:
“Muhammad [s.a.w.] bukan hanya melarang adat kebiasaan terlarang saja bahkan beliau menghapuskannya secara total. Seperti kebiasaan orang mengorbankan anak kecil yang disayanginya dengan membunuhnya, permusuhan berdarah, mengawini sejumlah perempuan tanpa batas, penganiayaan terhadap para sahaya yang tidak kenal henti, minum arak dan judi. (Jika beliau tidak bertindak demikian) maka adat kebiasaan buruk ini akan terus merebak tanpa mengenal berhenti sampai ke wilayah-wilayah Arab dan negara-negara sekitarnya.. (dan beliau telah mengakhiri semua.)” [11]
Selanjutnya ia menulis:
“[] Muhammad [s.a.w.] dalam kebaikan maksud dan tujuannya dan dalam semua kebaikan-kebaikannya mempunyai dasar iman yang sangat mendalam. Apa yang beliau kerjakan, orang lain tidak dapat melakukannya tanpa memiliki keyakinan yang sedalam-dalamnya.” (Yakni, keimanan dan keyakinan beliau yang besar atas kebenaran dakwah beliau dan pengutusan beliau dari Allah Ta’ala-lah yang membuat perubahan ini dapat terjadi.).  [12]
“Setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan beliau, menguatkan bukti bahwa beliau adalah seorang insan pecinta kebenaran, gelora semangat untuk berkarya (beramal) sambil bertahan dengan tabah dan sabar menghadapi berbagai macam kesulitan dan kesusahan yang akhirnya secara setapak demi setapak sampai ke tujuannya.”   [13]
Selanjutnya ia menulis,
“Perkataan bahwa bangsa Arab di waktu itu memerlukan inqilaab (revolusi) atau dalam kata lain waktu untuk kedatangan seorang Rasul baru sudah tiba, jika memang demikian maka Muhammad-lah orangnya. Para penulis zaman sekarang yang mengemukakan pendapat tentang itu Springer telah membuktikan bahwa kedatangan Muhammad [S.a.w.] adalah sesuai dengan yang ditunggu-tunggu bertahun-tahun lamanya dan telah dinubuatkan juga.” [14]
Selanjutnya Bosworth Smith menjelaskan,
“Secara keseluruhan saya tidak merasa heran apabila terjadi banyak perubahan terhadap Muhammad [s.a.w.] disebabkan timbul berbagai macam keadaan, namun yang menakjubkan saya adalah keadaan kepribadian beliau sangat sedikit mengalami perubahan sekalipun dirundung dengan terjadinya berbagai macam peristiwa, sebagai penggembala kambing di belantara padang pasir, sebagai pedagang ke negeri Syam, pengalaman di hari-hari bersemedi (bertahannuts) di Gua Hira, sebagai Muslih (reformer) sebuah Jemaat minoritas ketika berada di Mekkah, di masa-masa pengasingan di Medinah, sebagai Pemenang yang gemilang, memiliki kedudukan sederajat dengan Kaisar dan Kisra Iran, kita dapat menyaksikan keteguhan hati dan ketabahan beliau [s.a.w.] berjalan secara konstan (tetap teguh). Keadaan luar Muhammad [s.a.w.] mengalami perubahan-perubahan namun keagungan pribadi dan akhlaki beliau sedikitpun tidak mengalami perubahan. Saya tidak yakin jika orang lain akan mampu menghadapi keadaan luar yang banyak sekali mengalami beraneka macam perubahan.” [15]

Pendapat Washington Irving dan  Sir William Muir


Washington Irving dalam bukunya ‘Life of Muhammad’ menulis:

“Dalam meraih kemenangan-kemenangan di waktu peperangan beliau [s.a.w.] tidak pernah menunjukkan kebanggaan, tidak pernah takabbur dan tidak pernah menunjukkan suatu kebesaran atau kemegahan. Jika dalam kemenangan itu ada unsur tujuan pribadi maka pasti beliau berlaku seperti itu. Di waktu memegang kekuasaan yang cemerlang pun beliau bersikap sederhana dan merendahkan diri sekalipun beliau dalam keadaan yang sangat sulit sehingga dalam kehidupan sebagai raja pun jika seseorang masuk kedalam ruangan rumah beliau dan melakukan penghormatan yang tidak perlu, beliau menyatakan tidak senang terhadapnya.”   [16]
Sir William Muir, yang disamping seorang Orientalis juga adalah seorang yang cukup menentang [Islam], beliau pun telah menulis:

“Beliau menyempurnakan tiap-tiap pekerjaan beliau sendiri, dan kebiasaan beliau adalah tidak menjangkau apa-apa jika tidak betul-betul ada di hadapan beliau. Begitu juga kebiasaan beliau dalam pergaulan di tengah-tengah masyarakat apabila beliau sedang bercakap dengan seseorang sambil menatap mukanya maka beliau tidak menghadap kepadanya dengan separuh muka melainkan dengan sepenuh muka dan badan menghadap kepadanya dan dengan sikap yang serius kepadanya. Di waktu berjabat tangan beliau tidak melepaskan tangan sebelum orang lain melepaskan tangan beliau. Begitu juga bila beliau bercakap-cakap dengan orang yang asing tidak meninggalkannya di tengah percakapan dan tidak pula memalingkan telinga darinya.Beliau menjalani kehidupan dengan penuh kesederhanaan. Kebiasaan beliau adalah setiap memerlukan sesuatu, beliau lakukan dengan tangan beliau sendiri. Apabila memberi sedekah beliau berikan dengan tangan sendiri langsung kepada pengemis. Beliau membantu istri-istri beliau dalam pekerjaan rumah tangga... Para delegasi dan tamu-tamu yang datang dari luar daerah beliau sambut dengan ramah-tamah dan muka ceria sambil mengucapkan selamat datang kepada mereka dengan penuh hormat dan mesra. Beliau sangat mudah dihubungi laksana air sungai mengalir menuju tepi. Dalam menyambut kedatangan para delegasi dan dalam memecahkan perkara-perkara pemerintahan lainnya dapat dibuktikan dari Sejarah bahwa dalam diri Muhammad [s.a.w.] tersimpul semua kemampuan dan kebijaksanaan yang sempurna. Dari semua perkara yang mengherankan adalah beliau tidak dapat menulis.”
Selanjutnya, inilah tulisan William Muir,
“Yang mengherankan lagi, Muhammad [s.a.w.] mempunyai kesopanan dan pertimbangan akhlak yang luhur sekalipun terhadap pengikut yang dianggap rendah dan tidak begitu penting. Kerendahan hati, kebaikan, kesabaran, pengorbanan diri dan kemurahan menghiasi keindahan prilakunya dan menciptakan kecintaan dalam hati orang-orang di sekelilingnya. Beliau tidak suka menolak dengan mengeluarkan perkataan ‘tidak.’ Jika beliau tidak bisa memenuhi permintaan seseorang dengan jawaban yang positif beliau memilih sikap diam. Beliau tidak pernah menolak undangan sekalipun dari orang yang sangat miskin sekali. Dan beliau tidak pernah menolak hadiah sekecil apapun dari para sahabat beliau. Yang sangat menakjubkan lagi adalah apabila beliau berada di tengah-tengah suatu pertemuan setiap orang menganggap beliau tamu yang paling penting dan paling utama.
Apabila beliau menjumpai seseorang telah meraih suatu kejayaan maka beliau dengan hangat menyambut sambil menjabat tangannya dan merangkulnya. Beliau dengan lemah lembut menyatakan rasa simpati terhadap orang-orang yang lemah dan miskin. Beliau berlaku sangat kasih sayang terhadap anak-anak kecil yang kerap kali mengerumuni beliau. Tanpa merasa enggan beliau mengucapkan salam terhadap anak-anak yang sedang bermain-main di tepi jalan. Di musim paceklik dimana banyak orang kelaparan beliau mengajak orang-orang makan bersama  dan beliau selalu berusaha mencari kemudahan bagi orang lain. Kebaikan, kedermawanan dan kelemahlembutan tabiat beliau menembus dan menghiasi semua akhlak karimah beliau.
Muhammad [s.a.w.] seorang kawan yang sangat setia. Beliau mencintai Abu Bakar lebih dari mencintai saudara sendiri. Kasih sayang terhadap Ali seperti saudara kandung sendiri. Zaid seorang sahaya beragama Kristen begitu lekat mencintai Muhammad [s.a.w.] sehingga ia enggan kembali kepada ibunya yang sedang sakit dan merindukannya dan memilih tinggal di Mekkah bersama beliau [s.a.w.]. Sambil melekatkan diri kepada Muhammad [s.a.w.] Zaid berkata: ‘Saya tidak akan meninggalkan engkau! Engkaulah ibu dan bapak saya!’ Persahabatan Muhammad berakhir sampai Zaid meninggal dunia, dan anaknya, Usamah diperlakukan secara istimewa oleh Muhammad [s.a.w.] demi menghormati ayahnya.
Utsman dan Umar juga mempunyai hubungan yang istimewa dengan Muhammad [s.a.w.]. Di waktu Bai’at Ridwan di Hudaibyah demi keselamatan menantu yang istimewa itu beliau bertekad untuk menyerahkan jiwa-raga beliau sebagai bukti hubungan persahabatan yang sangat kuat dan erat sekali. Masih banyak lagi contoh kecintaan Muhammad tanpa ragu terhadap para sahabat beliau. Kecintaan beliau kepada siapapun, tidak syak lagi, sungguh pada tempatnya, dan kecintaan yang hangat dan sangat mendebarkan hati sungguh menjadi teladan bagi semua.”
Selanjutnya ia menulis:
“Di kala kekuatan dan kekuasaan sudah sampai ke puncaknya juga Muhammad [s.a.w.] tetap adil dan sederhana. Perlakuan lemah lembut terhadap musuh-musuh juga beliau tidak menguranginya sedikitpun, sehingga merekapun dengan senang hati menerima da’wa beliau.
Kejahatan dan penganiayaan penduduk Mekkah secara terus-menerus terhadap beliau sampai waktu yang sangat panjang, diwaktu terjadi Fatah Mekkah menghendaki agar pembalasan terhadap mereka secara berdarah berhak dilakukan. Akan tetapi selain beberapa pelaku kejahatan beserta semua penduduk Mekkah telah dimaafkan oleh Muhammad [s.a.w.]. Dan semua kejahatan yang telah berlaku terhadap beliau dimasa lampau telah dilupakannya. Sekalipun pelaku-pelaku penghinaan, caci maki dan pengkhianatan itu bahkan orang yang sangat keras memusuhi beliau juga telah diperlakukan dengan pertimbangan yang sangat baik.
Di Madinah, Abdullah bin Ubay bersama rekan-rekanya yang munafik yang selama bertahun-tahun melakukan pelanggaran dan hambatan-hambatan terhadap kegiatan Missi beliau dan selalu melukai perasaan hati beliau [s.a.w.], memberi ma’af kepada mereka juga merupakan teladan cemerlang yang patut ditiru.
Begitu juga perlakuan lemah-lembut terhadap Kabilah-kabilah yang melakukan permusuhan keras dihadapan beliau dan sebelum terjadi Fatah Mekkah juga melakukan perlawanan yang sangat keras, terhadap mereka juga beliau berlaku sangat lunak.”   [17]
Meskipun ia menulis di beberapa tempat yang menentang Al-Qur'an dll, di sini ia menulis:
Untuk kebenaran Muhammad [s.a.w.] ada satu tanda pendukung kebenaran  yang sangat kuat yaitu siapapun yang beriman dan masuk Islam pada awal permulaan da’wa beliau, mereka itu orang-orang yang memiliki perangai dan prilaku yang bermutu tinggi. Bahkan kawan-kawan dekat dan kaum keluarga beliau juga, yang betul-betul mengetahui seluk-beluk kehidupan beliau [s.a.w.], mereka tidak dapat melihat sedikit pun suatu kelemahan beliau seperti yang biasa dilakukan orang munafik, dimana gerak-gerik dan perangai di luar berlainan dengan yang diperbuat di dalam rumah tangga sendiri.” [18]

Pendapat Sir Thomas Carlyle


Sir Thomas Carlyle menulis mengenai keadaan ummi beliau s.a.w.,
“Satu perkara yang tidak dapat dilupakan bahwa beliau tidak menerima pendidikan sekolah apapun. Sekalipun di sebuah sekolah yang disebut ‘school-learning’ pun beliau tidak pernah belajar. Kebudayaan menulis bagi Bangsa Arab adalah hal baru [kemudian]. Pendapat yang mengatakan bahwa Muhammad [s.a.w.] tidak pernah bisa menulis, adalah benar. Pendidikan beliau berlaku di sekitar pengalaman lingkungan padang Sahara dan bukit-bukit pegunungan tandus. Dengan sarana dunia terbatas, dari tempat yang gelap, dengan daya kekuatan mata dan daya pikir sendiri apa yang dapat diperolehnya? Lebih mengherankan lagi, apabila kita memikirkan hal itu, buku-buku pun tidak ada di sana. Di padang Sahara Arab yang sunyi senyap, seseorang tidak dapat mengetahui suatu ilmu apapun kecuali dengan tutur tinular (pembicaraan dari mulut ke mulut, dari satu keturunan ke keturunan selanjutnya) dan apa-apa yang dapat disaksikan oleh kedua matanya sendiri. Perkataan-perkataan hikmah kebijaksanaan yang sudah ada sebelum beliau atau yang suduh ada di daerah Arab yang lain, disebabkan tidak ada sarana untuk menyampaikannya kepada beliau, hal itu bagi beliau sama saja dengan tidak ada sama sekali. Dengan demikian manusia yang sangat agung ini tidak pernah mengadakan wawan-cakap langsung dengan penguasa atau pun ulama. Beliau tinggal seorang diri bersama alam di tengah-tengah Gurun Sahara tandus, dan alam dan poros pemikiran beliau terus dalam keadaan demikian.” [19]
Selanjutnya ia menulis mengenai pernikahan beliau dan hubungan rumahtangga beliau:
“Bagaimana beliau menjadi teman hidup Khadijah (r.a.)? Bagaimana beliau menjadi pelaksana bisnis seorang janda kaya raya, kemudian berjalan jauh memburu pasar-pasar di Negeri Syam (Suriah)? Bagaimana beliau melakukan itu semua? Setiap orang tahu betul bahwa beliau lakukan itu semua dengan sangat jujur dan ketangkasan serta kepakaran yang luar biasa. Mengapa timbul rasa hormat dan syukur dalam hati Khadijah (r.a.) kepada beliau? Kisah perkawinan mereka, sebagaimana para penulis Arab telah menguraikannya, adalah sangat mengesankan hati dan layak untuk diketahui. Umur Muhammad [s.a.w.] pada waktu itu 25 tahun sedangkan Khadijah 40 tahun. Dapat diketahui bahwa kehidupannya dengan wanita yang baik hati itu sangat bahagia, tenteram dan penuh kasih sayang satu sama lain. Beliau sangat mencintai Khadijah dengan kecintaan yang hakiki dan telah menjadi buah hati beliau sendiri. Beliau tidak mungkin disebut Nabi palsu sebab sepanjang kehidupan beliau sedikitpun tidak ada suatu yang mengundang kritik. Sepanjang kehidupan beliau sangat tenang dan tenteram, hingga masa muda beliau berlalu.” [20]
Selanjutnya Thomas Carlyle menulis,
“Perkara yang masyhur di kalangan kita orang-orang Kristen masa kini menuduh Muhammad [s.a.w.] seorang Nabi palsu dan pendusta. Agamanya semata-mata khayalan belaka dan palsu penuh dusta. Sekarang semua anggapan dan tuduhan orang-orang itu telah terbukti salah. Kata-kata dusta orang-orang Kristen yang penuh kebencian ditujukan terhadap Muhammad [s.a.w.], sekarang tuduhan itu betul-betul telah membuat noda hitam terhadap diri kita sendiri (Kristen). Dan Bahasa yang keluar dari mulut orang ini (Muhammad s.a.w.) telah menjadi sarana hidayah (petunjuk) bagi 180 juta manusia sejak 1200 tahun yang lalu. (Hal ini disampaikan pada di abad 19) Pada zaman sekarang ini tidak ada satu pun manusia yang perkataannya dipercayai orang lain melebihi ia [Nabi s.a.w.] yang dipercayai dan diimani oleh para pengikutnya. Menurut saya tidak ada yang lebih buruk dari pada tuduhan, bahwa orang ini telah menyebarkan agama dusta.”  (Dengan kata lain ini adalah pandangan yang sama sekali tidak benar.). [21]

Pendapat Lamartime

Seorang Filosof Prancis bernama Lamartime telah menulis dalam bukunya bernama ‘History of Turkey’ (Sejarah Turki) sebagai berikut:


“Jika untuk mengukur kepandaian seseorang ditetapkan tiga kriteria yaitu pertama, sejauh mana keagungan maksud dan tujuannya [cita-citanya], kedua, terbatasnya sarana yang dia miliki, ketiga, hasilnya yang agung. Maka sekarang di zaman modern ini siapakah yang dapat menandingi Muhammad [s.a.w.] dalam ketiga hal tersebut? Manusia berjiwa global yang hanya dengan beberapa gelintir pasukan tentara telah mengalahkan sejumlah kerajaan dan pemerintahan besar-besar yang telah menegakkan undang-undang pemerintahan duniawi namun telah porak poranda menghadapi pasukan tentera beliau. Akan tetapi Muhammad [s.a.w.] bukan hanya bala tentara dunia, semua undang-undang pemerintahan, negara-negara, berbagai macam bangsa dan  suku-suku bangsa, melainkan semua penduduk dunia telah dihimpun olehnya menjadi satu. Selain dari itu beliau telah mengadakan reformasi tempat-tempat berkorban, ketuhanan, agama, itikad-itikad, pikiran-pikiran dan spirit manusia.Dasar hukum Muhammad [s.a.w.] hanya sebuah Kitab yang setiap hurufnya menjadi undang-undang. Orang itu menjadikan setiap pengguna bahasa dan setiap Bangsa sebagai satu kepribadian rohaniah.” [22]
Selanjutnya Lamartime, filosof Prancis ini menulis,
“Muhammad [s.a.w.] seorang filosof, orator, utusan Tuhan, pakar hukum, panglima perang, juara diatas semua ahli pikir, pembaharu ajaran-ajaran rasional, penegak berpuluh-puluh macam pemerintahan menjadi satu pemerintahan. Sekarang cobalah, tentukanlah seorang pakar kemanusiaan untuk menilai dapatkah ia menemukan seorang manusia telah lahir di dunia lebih agung dari Muhammad [s.a.w.]?” [23]

Pendapat  John Devonport ;Michael H. Hart

John Devonport menulis,


“Apakah mungkin, jika kita pikir, orang ini (Muhammad s.a.w.), seorang reformer agung terhadap orang-orang musyrik di negerinya yakni para penduduk Arab yang secara keseluruhan terbenam ratusan tahun menyembah berhala-berhala memperbaiki menjadi penyembah Tuhan Yang Tunggal kemudian merombak mereka menjadi manusia-manusia Ilahi yang taat, kita menganggapnya sebagai Nabi palsu dan dusta? Dapatkah kita mengira semua misinya itu perbuatan makar yang dibuat-buat oleh nafsunya sendiri? Sekali-kali tidak! tanpa ragu sedikit pun Muhammad [s.a.w.] berjuang dengan gigih semenjak wahyu Ilahi pertama turun sampai akhir hayat beliau tiada lain sebabnya selain karena niat baik dan sifat jujur dapat dipercaya dan disebabkan demikian teguh kokohnya diri beliau. Orang-orang yang selalu dekat dengan beliau dan yang selalu mengadakan hubungan erat dengan beliau tidak pernah melihat adanya sifat pamer pada pribadi beliau.” [24]
Selanjutnya ia menulis:
“Dengan penuh yakin secara sempurna dapat dikatakan bahwa jika putra-putra mahkota Barat menjadi Penguasa di Asia pengganti mujahidin Muslim dan Penguasa Bangsa Turki, mereka tidak akan dapat berlaku toleran terhadap orang-orang Muslim seperti orang-orang Muslim melakukannya terhadap orang-orang Kristen. Sebab, orang-orang non Kristen dijadikan oleh mereka target penganiayaan dengan kezaliman dan kefanatikan yang memuncak disebabkan perbedaan-perbedaan agama.”  [25]
Selanjutnya John Devenport menulis,
"Tidak ragu-ragu lagi bahwa diantara semua orang yang sangat adil dan berjaya tidak ada seorangpun mempunyai riwayat hidup seperti yang dimilki oleh Muhammad [s.a.w.]  yang sangat rinci dan betul-betul asli dan bersih.” [26]



Michael Hart dalam bukunya bertajuk ‘The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History’ menulis:
“Jatuhnya pilihan saya kepada Muhammad [s.a.w.] dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan sementara pembaca dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang lain. Tapi saya berpegang pada keyakinan saya, dialah Muhammad [s.a.w.] satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi. [27]
Apakah pengaruh Muhammad [s.a.w.] yang paling mendasar terhadap sejarah ummat manusia? Seperti halnya lain-lain agama juga, Islam punya pengaruh luar biasa besarnya terhadap para penganutnya. Itu sebabnya mengapa penyebar-penyebar agama besar di dunia semua dapat tempat dalam buku ini.
Ia menulis,
“Jika diukur dari jumlah, banyaknya pemeluk Agama Nasrani dua kali lipat besarnya dari pemeluk Agama Islam [pada waktu buku itu ditulis], dengan sendirinya timbul tanda tanya apa alasan menempatkan urutan Muhammad [s.a.w.] lebih tinggi dari Nabi Isa dalam daftar.
“Akan tetapi saya mempunyai dua alasan penting dibalik keputusan saya itu. Pertama, Muhammad [s.a.w.] memainkan peranan jauh lebih penting dalam pengembangan Islam ketimbang peranan Nabi Isa terhadap Agama Nasrani.. Biarpun Nabi Isa bertanggung jawab terhadap ajaran-ajaran pokok moral dan etika Kristen, (yakni, sampai batas tertentu Kristen berbeda dengan Yahudiyyat/Yudaisme), Saint Paul (Santo Paulus) memegang peran utama dalam mengembangkan teologi atau ilmu ketuhanan dan pembuat dasar baru penyebaran agama Kristen serta penulis utama sebagian besar Kitab Perjanjian Baru.
Kemudian ditulis:
“Sebaliknya dalam Agama Islam, yang bertanggung jawab terhadap semua kaidah akhlaki dan asas-asas pendidikan agama adalah Muhammad [s.a.w.]. Muhammad [s.a.w.] sendiri yang telah memberi bentuk terhadap seluk-beluk agama baru ini, dan beliau menjadi perancang dan pembangun dalam pendidikan serta pengajaran agama Islam.
“Selain dari itu, Kitab Suci orang-orang Muslim yakni Al-Qur’an yang ditulis oleh Muhammad menjadi bukti visi intuisinya [s.a.w.]”. (yakni penentang yang ini, ia menulis demikian) ia menulis, “Yang mengenainya beliau (yakni  s.a.w.) berkata, ia [Al-Qur’an] dari Allah Ta`ala, diwahyukan kepadanya. Sebagian terbesar dari wahyu ini dihimpun [dihapal, disalin, ditulis] dengan penuh kesungguhan selama Muhammad [s.a.w.] masih hidup dan kemudian tak lama sesudah dia wafat dihimpun secara keseluruhan dan terlindungi [tak tergoyahkan]. Al-Quran dengan demikian berkaitan erat dengan pandangan-pandangan Muhammad [s.a.w.] serta ajaran-ajarannya, dan dengan demikian, dari beberapa segi, Al-Qur’an itu adalah perkataan beliau. Sebaliknya, tak ada satu pun kumpulan yang begitu terperinci dari ajaran-ajaran Isa yang masih dapat dijumpai di masa sekarang. Karena Al-Quran bagi kaum Muslimin sedikit banyak sama pentingnya dengan Injil bagi kaum Nasrani, pengaruh Muhammad [s.a.w.] dengan perantaraan Al-Quran teramatlah besarnya.
Kemungkinan pengaruh Muhammad [s.a.w.] dalam Islam lebih besar dari pengaruh Isa dan St. Paul dalam dunia Kristen digabung jadi satu. Diukur dari semata-mata sudut agama, tampaknya pengaruh Muhammad [s.a.w.] setara dengan Isa dalam sejarah kemanusiaan. (Menurut pendapat mereka martabat Nabi Muhammad s.a.w. dan Nabi Isa a.s. adalah sama). [28]
Selanjutnya iapun menulis:
“Lebih jauh dari itu (berbeda dengan Isa) Muhammad [s.a.w.] bukan semata pemimpin agama tapi juga pemimpin duniawi, akan tetapi Nabi Isa [a.s.] tidak mendapat kedudukan seperti itu.” Pendek kata, keteladanan beliau dalam setiap hal menggambarkan kepribadian beliau yang suci dalam corak yang semakin bertambah terang.

Pendapat Karen Armstrong

Karen Armstrong dalam bukunya ‘Muhammad-A Biography of the Prophet’ menulis:


“Untuk mengajarkan masalah rohaniah berdasarkan tauhid, Muhammad [s.a.w.] secara amaliah harus memulai dari nol. Ketika beliau memulai menyampaikan misi dakwah nampaknya tidak mungkin dapat menyampaikannya di tengah-tengah bangsa Arab yang betul-betul tidak bersedia menerima ajaran Tauhid. Mereka itu tidak mampu untuk memahami ajaran yang sangat luhur ini.
Sebenarnya memperkenalkan ajaran Tauhid kepada masyarakat yang beringas dan ganas itu betul-betul sangat berbahaya. Dan Muhammad [s.a.w.] sangat bernasib baik ketika jiwa beliau selamat terlepas dari bahaya keganasan mereka itu. Sesungguhnya nyawa Muhammad selalu berada dalam keadaan sangat berbahaya, dan selamatnya nyawa beliau merupakan mu’jizat dari Allah Ta’ala. Akan tetapi Muhammad [s.a.w.] tetap waspada dan berjaya. Sampai akhir hayat Muhammad [s.a.w.] berhasil menumpas serangan Kabilah ganas yang memusuhi beliau dan bagi masyarakat Arab tidak ada masalah pelik lagi tentang agama. Akhirnya Bangsa Arab sendiri betul-betul sudah siap untuk mengukir sejarah zaman baru mereka.”  [29]
Selanjutnya ia menulis mengenai agama Kristen atau Barat,
“Akhirnya orang-orang Baratlah, bukan orang Islam yang melarang mengadakan diskusi tentang Agama. Di zaman Inkuisisi dan perang Salib nampaknya Eropa berusaha sekuat tenaga menekan pendapat-pendapat yang timbul dari Bangsa lain, dan hukuman-hukuman yang dijatuhkan kepada para penentang mereka demikian kejamnya sehingga tidak terdapat tandingannya dalam sejarah suatu agama apapun. Kezaliman yang dilakukan terhadap para penentang pendirian mereka, kezaliman orang-orang Protestan terhadap orang-orang Katolik, sebaliknya kezaliman orang-orang Katolik terhadap orang-orang Protestan yang bernafaskan perbedaan-perbedaan akidah agama yang dalam sudut pandang kedua agama, Yahudiyyat dan Islam, hanyalah menyangkut urusan-urusan pribadi belaka. Akidah Kristen berbau bid’ah mengenai kepercayaan ketuhanan manusia tidak ada kaitannya dengan Yahudiyyat maupun Islam, tidak dapat diterima, bahkan membawa kepada kemusyrikan.” [30]


Pendapat  Annie Besant dan Ruth Cranston

Annie Besant dalam bukunya ‘The Life and Teachings of Muhammad’ menulis:



“Tidak mungkin bagi seseorang yang telah mempelajari riwayat hidup dan akhlak Nabi Agung asal Arab ini dan dia mengetahui ajaran yang disampaikannya dan mengetahui bagaimana dia menjalani kehidupannya, tanpa memberi penghormatan terhadap Nabi agung dari antara nabi-nabi Allah ini. Apa yang sedang saya katakan ini mungkin orang-orang lain sebelumnya telah mengetahuinya. Akan tetapi bila saja saya membaca hal ini maka timbul perasaan baru dalam hati saya untuk menghormati Nabi Arabi yang agung ini dan nampak warna baru untuk memujinya.” [31]
Ruth Cranston menulis dalam ‘World Faith’:
Muhammad orang Arab itu [s.a.w.] tidak pernah menjadi orang yang memulai peperangan. Setiap perang yang beliau lakukan sifatnya membela diri. Apabila beliau berperang tujuannya hanyalah untuk menyelamatkan diri. Beliau berperang dengan cara dan menggunakan senjata sesuai zamannya. Dengan yakin dapat dikatakan bahwa tidak ada negara Kristen dari 140.000.000 orang pada hari ini (buku ini ditulis tahun 1949) yang telah membinasakan 120.000 orang sipil tak berdaya hanya dengan satu ledakan bom saja dapat melakukan tuduhan jahat terhadap seorang pemimpin agung yang telah melakukan penyerangan dan diserang di dalam seluruh peperangan yang telah membunuh hanya 500 atau 600 orang saja dianggap paling kejam. Membandingkan jumlah kematian di tangan Nabi Arabia [s.a.w.] di alam kegelapan abad ketujuh ketika manusia sedang haus darah satu sama lain dengan jumlah kematian di abad kita abad kedua puluh yang gilang-gemilang ini merupakan kebodohan. Tidak perlu diceritakan lagi pembantaian massal oleh orang-orang Kristen di zaman inkuisisi dan Perang Salib ketika para prajurit Kristen dengan bangga mencatat semua peristiwa ketika mereka berjalan di sela-sela mayat orang-orang tak beriman terendam darah sedalam mata kaki.” [32]

Pendapat Godfrey Higgins

Selanjutnya, Godfrey Higgins menulis:
“Mengenai hal ini, umumnya, tidak apa-apa bahwa mayoritas pendeta Kristen mencaci-maki agama Muhammad [S.a.w.] dikarenakan kefanatikan dan tidak adanya toleransi mereka. Itu adalah sangat mengherankan dan merupakan sebuah kemunafikan yang aneh. Siapakah yang mengusir orang-orang Muslim dari Spanyol hanya karena setelah mereka menjadi Kristen lalu dianggap bukan orang Kristen yang baik? Siapakah yang membunuh ribuan orang di Meksiko dan di Peru, dan menjadikan mereka budak hanya karena mereka tidak mau menjadi Kristen? Demikian berbeda dan tingginya keteladanan yang dilakukan oleh orang-orang Muslim saat mereka menguasai Yunani. Ratusan tahun mereka membiarkan orang-orang Yunani pada agama mereka, membiarkan kaum pendeta, para rahib dan biarawan beribadah dengan aman di gereja-gereja mereka.”  [33]
Pendek kata, penulis memperbandingkan antara kaum Kristen dan Muslim.
Selanjutnya, Godfrey ini menulis lagi,
“Dalam sejarah seluruh khalifah Islam, kami tidak menemukan adanya Inquisisi sebagaimana biasa ia disebut demikian buruk. Satu kali pun peristiwa tidak terjadi bahwa dikarenakan pertentangan keyakinan atau suatu hal lalu memberikan hukuman mati, ‘Kenapa tidak menerima agama Islam?’” [34]
Inilah pengaruh dari ajaran yang diberikan oleh  Rasulullah S.a.w. kepada orang-orang Muslim.

Pendapat Edward Gibbon


Selanjutnya, dalam ‘History of the Saracen Empire’ karya Edward Gibbon tertulis bahwa,
“Bukan penyebaran agama beliau [s.a.w.] yang mengherankan kita melainkan terus menerus berdirinya agama ini.  Muhammad [s.a.w.] yang telah memberikan kesan istimewa dan sempurna di Mekkah dan Madinah. Pengaruh yang ditinggalkan oleh  Muhammad [s.a.w.] yang murni dan sempurna yang beliau letakkan di Mekkah dan Madinah itu, selama 12 abad revolusi pun, penganut baru Al-Qur`an baik di India, Afrika maupun Turki sampai sekarang masih tetap menjaganya. Mazhab dan akidah murid-murid Muhammad [s.a.w.] menguatkan wawasan teruji manusia, dan mereka tetap teguh melawan perasaan was-was. Sesungguhnya syahadat Islam itu demikian sederhana dan tidak dapat berubah, yaitu, “Aku beriman kepada satu Tuhan dan Rasul Tuhan [.a.w.].” Yakni, Laa ilaha Illallaah Muhammad Rasuluullaah. Ini adalah suatu gambaran, bahwa Tuhannya orang-orang Muslim itu bukanlah berhala. Penghormatan (pengikutnya) kepada Nabi Islam ini tidak melewati batas-batas standar sifat-sifat kemanusiaan, dan penghargaan dan semangat kebaikan para pengikutnya atas sabda-sabdanya yang kekal menghidupkan tetap berada dalam batas agama dan akal.”   [35]
Apa yang ia katakan adalah bahwa di sisi lain orang-orang Kristen telah menjadikan manusia menjadi tuhan.

Semoga dunia memahami kedudukan manusia teragung di dunia ini, berusaha untuk bernaung di bawah telapak kaki beliau s.a.w. [menjadi pengikut beliau s.a.w.] bukan menjauhi atau berusaha memusuhi dan mencemoohkan beliau s.a.w. agar dunia selamat dari azab Allah Ta’ala. Hanya dan hanya beliau s.a.w.-lah penyelamat dunia dan setiap hakikatnya juga dijelaskan oleh orang-orang non Muslim yang obyektif seperti telah saya jelaskan kepada saudara-saudara dari kutipan tulisan mereka dan masih ada lagi tak terhitung banyaknya.

Kebenaran para nabi terdahulu juga telah terbukti melalui ajaran-ajaran beliau. Itulah kedudukan Khatamun Nubuwwah yang setiap orang Islam harus menyebarkannya kepada dunia.

Dikutip dari khutbah Hazrat Mirza Masroor Ahmad
sumber: www.reviewofreligions.org
Terjemah: Dildaar Ahmad Dartono

Makna Sholat Berjamaah

Didalam hadits dikatakan bahwa pahala shalat berjamaah adalah 27 kali dibandingkan dengan shalat sendiri. banyak orang Islam berhitung secara kuantitatif seolah-olah dengan melakukan shalat berjamaah maka ia akan menabung pahala sebanyak 27 kali. Demikian juga ketika di dalam hadis dikatakan bahwa shalat di Masjidil Haram akan dilipatgandakan pahalanya sebanyak seratus ribu kali lipat. Luar biasa.

Saya pribadi memahami masalah ini dari sisi kepemimpinan dan persatuan Islam. Shalat berjamaah berarti berkelompok dengan panduan seorang imam. Apa yang dilakukan imam akan diikuti oleh makmumnya, kecuali imam salah. Semua makmum harus berbaris dengan shaf yang teratur dan lurus. Semua mengikuti arah Imam, betapa kuatnya organisasi ini. Siapa yang dapat mematahkan shaf yang kokoh? Sayang makna dari keuntungan shalat berjamaah luput dimengerti oleh umat islam! Salah satu kunci keberhasilan dakwah di zaman Rasulullah saw adalah persatuan. Salah satu cara menumbuhkan persatuan tersebut adalah dengan shalat berjamaah. Kecintaan mereka, disiplin dan keikhlasan mereka dalam menunaikan shalat berjamaah telah menumbuhkan semangat persatuan dan keberanian yang tinggi diantara mereka. di sisi lain hubungan silaturahmi yang penuh kasih sayang semangat erat terjalin diantara mereka. Sehingga gambaran umat Islam yang bagaikan dua jari dieratkan benar-benar nampak di zaman itu.

Dalam hal disiplin dan kecintaan mereka dalam shalat berjamaah kita dapati di dalam salah satu riwayat bahwa seorang sahabat yang sudah uzur dan tuna netra setiap hari beliau shalat berjamaah ke masjid walaupun jaraknya tidak bisa dibilang dekat, diceritakan bahwa sahabat tersebut meminta keringanan Rasulullah saw untuk beliau khusus untuk shalat subuh shalat di rumah saja. Rasulullah saw mengizinkan, tetapi baru beberapa langkah Rasulullah saw meralat bahwa sahabat tersebut tetap menunaikan shalat berjamaah di Masjid. Betapa tingginya semangat dan disiplin yang terbentuk waktu itu. Bisa kita bayangkan seandainya di Masjid Istiqlal, setiap umat Islam yang berada di dalam radius beberapa kilometer dari Masjid - menunaikan ibadah shalat berjamaah di Masjid lima kali sehari - majid tersebut mungkin tidak akan mampu menampung, dan kitapun bisa membayangkan dampak persatuan, kecintaan dan kebaikan akan lebih terbentuk di dalam MAsyarakat. Dan lebih luas lagi musuh-musuh Islam yang melihat tentu akan gentar melihat persatuan Islam yang terbentuk dari hal yang paling mendasar sekali.

Contoh dalam hal ini adalah di Perancis, Islam yang dari sisi prosentase sebenarnya masih jauh dibandingkan dengan masyarakat asli yang beragama non Muslim, tetapi Islam yang sedikit tersebut sudah menjadikannya sebagai 'ancaman' bagi eksistensi umat Kristiani disana. Betapa tidak kita menyaksikan bahwa setiap ibada shalat toko-toko disana sampai tutup karena orang-orang Islam yang harus shalat di jalan-jalan dan trotoar, karena tidak tercukupinya Masjid untuk menampung umat Islam yang semakin bertambah. Ketakutan itu seharusnya memang tidak perlu dirisaukan, karena semakin shaleh dan taatnya seseorang pada agama dan bentuk-bentuk peribadatan, tentu hal itu akan membawa seseorang akan semakin saleh secara sosial, karena itu adalah tuntutan pasti dari Islam. Sehingga dampak tersebut akan terasa di kalangan masyarakat Perancis sendiri. Tetapi walau bagaimanapun kita pun mengerti ketakutan mereka jika kita membandingkannya dengan tindakan-tindakan terorisme yang dilakukan oleh 'oknum-oknum' muslim. Jadi Shalat berjamaah adlah hal yang harus selalu kita perhatikan, tidak sekedar kita menganggap untuk kepentingan pribadi kita, tidak sekedar untuk memenuhi masjid tetapi lebih dari itu adalah kita harus menumbuhkan persatuan Islam, persatuan dalam bermasyarakat dan persatuan dalam beragama.

Kitab Suci Al-Quran Sebagai Keajaiban Rasulullah saw

Seorang yang buta huruf, yang tidak bisa baca tulis, ia belum pernah menjadi penulis sebuah buku semisal puisi, aturan hukum, sebuah buku doa umum, atau Alkitab, dan dihormati sampai hari ini oleh keenam suku bangsa seluruh umat manusia sebagai keajaiban kemurnian gaya, kebijaksanaan dan kebenaran. Itu adalah sebuah keajaiban dari Muhammad (saw)- 'keajaiban yang berjalan', dan memang ini keajaiban. 1 (Reginald Bosworth Smith)

keajaiban dan mukjizat alquran
Di abad 21 ini warga dari sebuah negara Eropa, yaitu para pemilih Swiss telah mendukung pelarangan pembangunan masjid dengan menara di negara mereka. Al-Qur'an, yang diturunkan di gurun Arabia pada abad ketujuh, telah menyatakan bahwa tujuan peperangan defensif adalah untuk mempertahankan kesucian biara-biara,  gereja, sinagog dan Masjid. Al-Qur'an menyebut tempat ibadah umat Islam terakhir di list ini. [2] Apakah Al-Qur'an suatu Mukjizat atau bukan?

Toleransi beragama bukanlah satu-satunya ajaran dimana Al-Qur'an unggul dalam hal ini dibandingkan buku-buku sekular maupun kitab-kitab agama. Sejak 1983 setengah juta orang telah meninggal di Amerika dikarenakan kecelakan lalu lintas terkait alkohol, untuk menyebutkan hanya satu masalah dari alkohol [3]  Al-Qur'an dengan tegas melarang alkohol, menyelamatkan orang-orang beriman dari sumber kejahatan ini. Apakah ini keajaiban atau bukan?

Demikian pula Sir Godfrey Higgins menulis,

    "Menurut hukum Muhammad segala bentuk perjudian sangat tegas dilarang. Manfaat dari hukum ini pasti tidak akan ada yang menyangkal. Ia akan menjauhkan dari semua kebaikan akhlaknya. Karena dikatakan bahwa ia hanya disalin dari Alkitab. Saya belum mengamati larangan terhadap kebiasaan buruk ini, baik dalam dekalog (sepuluh perintah Allah) maupun Injil.[4]

Sekarang 15 juta orang menunjukkan tanda-tanda kecanduan judi di Amerika, yang mengakibatkan diri mereka sendiri dan masyarakat dengan kesengsaraan. Al-Qur'an telah memangkas kejahatan ini dari akarnya. Apakah Al-Qur'an ajaib atau tidak?

Muhammad yang mencela dan menyalin moralitas dari Injil

Sir Godfrey Higgins menulis dalam hal pertahanan oleh Nabi Muhammad saw:

"Seorang filusuf mungkin akan menduga bahwa ketika Muhammad saw telah mengambil manfaat dari ajaran moral yang sangat baik dari Kristianisme, ia merasa, tidak hanya mengambil yang baik, tetapi juga meninggalkan kejahatan, mengadopsi moralitas, juga menghidari kehidupan merahib yang pada zamannya dunia penuh dengan pertumpahan darah dan penderitaan, dan dengan cepat menempatkannya pada keadaan yang paling merendahkan derajat kebodohan" [5]. Al-Qur'an telah melarang cara hidup monastik dalam kalimat yang jelas. (Alhadid: 28) 1400 tahun kemudian Gereja Katolik setuju dalam negosiasi dengan Gereja Anglikan. [7] [8] Setiap kali kita membandingkan Al-Qur'an dengan Alkitab, Al-Qur'an selalu terdepan, bukankan ini suatu keajaiban?

Al-Qur'an diturunkan di tengah-tengah masyarakat yang hidup di abad ketujuh namun memiliki 800 ayat yang menekankan pada studi alam. Bukankah ini suatu keajaiban? Ia telah mengantisipasi baik tentang Big Bang maupun tentang semua makhluk hidup membutuhkan kandungan air.

    "Tidaklah orang-orang yang ingkar melihat bahwa seluruh langit dan bumi keduanya dahulu suatu massa yang menggumpal, lalu Kami pisahkan keduanya ? Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup dari air. Apakah mereka tidak mau beriman ? [9]

Bukankah ini suatu keajaiban?

Al-Qur'an telah diturunkan di tengah-tengah masyarakat dimana sedikit sekali yang bisa membaca dan menulis, tetapi kemurnian teksnya telah terjaga selama lebih dari 14 abad. Klaim seperti itu tidak kita jumpai untuk Alkitab. Fakta-fakta ini diteliti dalam artikel lainnya, Kompilasi Alquran ke Dalam Sebuah Teks. (insyallah menyusul, pent).  Apakah ini bukan suatu keajaiban?

Al-Qur'an telah mengeluarkan tantangan bersejarah tidak hanya untuk zaman Nabi saw sendiri tetapi juga untuk semua orang di semua zaman:

    Katakanlah, “Seandainya berhimpun manusia dan jin untuk mendatangkan yang semisal Alquran ini, tidaklah mereka akan sanggup mendatangkan yang sama seperti ini,  walaupun sebagian mereka kepada sebagian yang lain sebagai penolong.” [10]

Tantangan tersebut tetap bertahan sampai 14 abad setelah turunnya. Orang-orang memandangnya dengan negatif dan mulai mengkritik Al-Qur'an dengan satu atau beberapa alasan. Tetapi itu hanyalah angan-angan mereka dan bentuk paranoia dan tidak ada langkah yang nyata. Fakta dan realitas dalam hal ini adalah tetap bahwa tantangan Al-Qur'an ini telah keluar dan tidak ada penulis yang telah mencoba untuk menyambut tantangan ini, dengan cara yang akan bertahan oleh ujian waktu. Sebuah kitab yang dikaitkan dengan seorang yang tak terpelajar dan belum ada yang berani menerima tantangan ini!

Profesor Laura Vaglieri yang menjabat sebagai Profesor Kebudayaan Arab dan Islam di Naples Eastern University menulis:

    "Meskipun lawan-lawan Islam telah diundang oleh Muhammad saw untuk menulis sebuah kitab yang sama dengan beliau atau minimal beberapa bagian surat... tidak ada yang mampu menghasilkan sesuatu yang bisa berdiri sebanding dengan Al-Qur'an, mereka berusaha menentang Rasulullah saw dengan tangan mereka tetapi gagal dalam menyaingi keunggulan Al-Qur'an [11]

 Tidakkah ini suatu keajaiban?

Filsuf jerman Johann Wolfgang Von Goethe berkata,

    “Betapa kita sering mempelajari al-Qur’an, mula-mula selalu menimbulkan jijik, kemudian secara bertahap timbul suatu ketertarikan, ia menakjubkan dan akhirnya pada akhirnya timbul suatu kekuatan yang mengagumkan" 12 13.

Profesor LAura Vaccia Vaglieri menjelaskan:

    "Keajaiban luar biasa Islam adalah Al-Qur'an, dimana tradisi yang secara konstan dan tidak terputus terus mengirimkan kepada kita berita tentang kepastian absolut. Ini adalah sebuah kitab yang tidak bisa ditiru. Setiap ekspresinya bersifat komprehensif, namun dalam ukuran yang pas, tidak terlalu panjang tidak terlalu pendek.Gaya bahasanya original, tidak ada model untuk gaya bahasa tersebut dalam sastra Arab pada zaman yang mendahuluinya. Efek yang dihasilnya pada jiwa manusia diperoleh tanpa bantuan adventif melalui keunggulannya sendiri yang melekat.

    Ayat-ayatnya sama-sama fasih sepanjang teks, bahkan ketika terkait dengan hal-hal seperti perintah dan larangan yang tentu akan memperngaruhi nadanya. Kisah para nabi, deskripsi awal dan akhir dunia, penyebutan dan penggambaran atribut Ilahi yang berulang tetai dilakukan dengan cara yang begitu mengesankan yang tidak melemahkan efek.Teksnya mengalir  dari satu topik ke topik lainnya tanpa kehilangan kekuatannya. Kedalamanan dan keindahan, suatu kualitas yang umumnya tidak bisa bersatu, tetapi disini ia menyatu,di mana masing-masing tokoh retorika menemukan aplikasi yang sempurna. Bagaimana bisa kitab luar biasa ini menjadi karya Muhammad, seorang Arab yang buta huruf yang sepanjang hidupnya walaupun hanya dua atau tiga ayat pun tidak ada yang mengungkapkan kualitas yang puitis? [14]

Apakah ini bukan suatu keajaiban?

Bernard Shaw yang dianugerahi Hadiah Nobel untuk sastra 1925 mengatakan:

    "Saya selalu menempatkan agama Muhammad [saw] di penghargaan tertinggi karena daya keindahannya. ini adalah satu-satunya agama tampaknya bagi saya yang memiliki kemampuan asimilasi ke fase eksistensi perubahan yang membuatnya menarik baik setiap masa. Saya telah memprediksi tentang agama Muhammad, bahwa ia akan diterima oleh Eropa suatu saat nanti karena sudah dapat diterima saat ini." [15]

Apakah ini bukan suatu keajaiban

Laura Vaccia Vaglieri, Profesor di Universitas Naples lebih lanjut menekankan:

    "Untuk kitab ini, selain pada kesempurnaan dalam bentuk dan metodenya, ia membuktikan diri telah melampaui batas imitasi bahkan dalam hal substansinya. Di dalamnya antara lain kita membaca perkiraan peristiwa masa depan, dan deskripsi peristiwa yang telah terjadi sejak berabad-abad sebelumnya tetapi umumnya telah diabaikan. Ada referensi yang sering pada hukum alam, berbagai sains baik agama maupun sekular. Kami menemukan ada sebuah toko besar ilmu pengetahuan yang berada diluar kapasitas manusia yang paling cerdas, atau filosof yang paling besar dan politisi yang paling kuat. Untuk semua alasan ini Al-Qur'an tidak bisa menjadi karya seorang yang tak berpendidikan, yang menghabiskan hidupnya di tengah-tengah masyarakat yang jauh dari orang-orang belajar dan agama, seorang yang selalu bersikeras bahwa ia hanyalah seorang laki-laku yang hanya seperti yang lain, dan dengan demikian tidak dapat melakukan mukjizat kecuali ia memiliki bantuan dari Allah yang Maha Kuasa. Al-Qur'an bisa memiliki sumbernya hanya melalui Dia Yang mengatahui segala sesuatu di langit dan di bumi [16 ]

Apakah ini keajaiban atau bukan?

Saya mengajak para pembaca Kristen dalam kata-kata Reginald Bosworth Smith,

    "Untuk membedakan antara yang aksidental dan esensial, yang fana dan yang kekal, diatas semua itu, secara terus menerus dengan meletakkan cermin di atas diri sendiri, dan mencoba untuk memastikan bahwa seseorang yang sesuai dengan prinsip besar Kristen yaitu menilai dan memperlakukan orang lain seperti halnya ia ingin dinilai dan diperlakukan; adalah resep untuk menilai urusan dengna cara yang adil dan tidak bias. Al-Qur'an menatakan mengenai pengetahuan yang tidak terbatas dan wawasan yang terkandung dalam kitab suci: "Katakanlah, “Sekiranya lautan menjadi tinta untuk menuliskan kalimat-kalimat Tuhan-ku, niscaya akan habis lautan itu sebelum kalimat-kalimat Tuhan-ku habis, sekalipun Kami datangkan sebanyak itu lagi sebagai tambahan.”  [18 ]

Ini adalah pengalaman yang Goethe alami setelah berulang kali memahami Al-Qur'an.

Almasih di zaman ini, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menjelaskan:

    "Al-Qur'an bukan saja tak tertandingi karena keindahan komposisinya, tetapi tak tertandingi karena semua klaim keunggulan yang meliputinya dan itu adalah kebenaran, apa saja yang berasal dari Allah keunikannya tidak saja karena satu kualitas tetapi karena semua kualitasnya. Mereka yang tidak menerima Al-Qur'an sebagai kebenaran dan wawasan abadi yang komprehensif, maka ia tidak menghargai Al-Qur'an sebagaimana harusnya ia dihargai.

    Sebuah tanda yang diperlukan untuk mengakui Firman Suci dari Allah taala adalah ia harus unik dalam semua kualitasnya, setelah kami amati bahwa apapun yang berasal dari Allah adalah bersifat unik dan tak tertandingi walaupun hanya sebutir gandum, dan kekuatan manusia tidak ada yang bisa menandinginya. Menjadi tak tertandingi maksudnya adalah menjadi tak terbatas, artinya suatu barang menjadi tak tertandingi hanya ketika keajaiban dan kualitasnya tak terbatas dan tak ada habisnya. Seperti yang baru saja kami katakan, karakteristik ini ditemukan dalam segala hal yang diciptakan oleh Allah taala. Misalnya jika keajaiban dari daun pohon diselidiki selama seribu tahun, periode itu akan habis tetapi keajaiban dari daun tersebut tidak akan berakhir. Hal itu karena ia telah mewujud melalui kekuasaan yang tak terbatas, harus terdiri dari keajaiban dan kualitas yang tak terbatas. [19]

Apakah ini bukan suatu keajaiban atau tidak?

Ruang ini tidak memungkinkan saya untuk melanjutkannya. saya mengajak pembaca untuk meninjau sebuah terjemahan Al-Qur'an dalam bahasa Inggris 5 volume dalam bentuk web 20. Untuk keterangan lebih lanjut kunjungi :http://www.alislam.org/quran/


[1] Reginald Bosworth Smith, Mohammed dan Mohammedanism, 1889 edisi. Halaman 290.
[2] Al Quran 22:42.
[3] http://www.alcoholalert.com/drunk-driving-statistics.html
[4] Godfrey Higgins Esq, Permintaan maaf untuk kehidupan dan karakter Mohamed nabi atau terkenal. Tahun publikasi 1829. Halaman 35. Dicetak oleh G. Smallfield, Hackney. Buku ini tersedia di Archive.org tersebut.
[5] Sir Godfrey Higgins Esq, Permintaan maaf untuk kehidupan dan karakter Mohamed nabi atau terkenal. Tahun publikasi 1829. Halaman 30. Dicetak oleh G. Smallfield, Hackney.
[6] Al Quran 58:23.
[7] http://www.bbc.co.uk/worldservice/news/2009/11/091121_anglicans_nh_kv.shtml
[8] http://news.bbc.co.uk/2/hi/uk_news/8405437.stm
[9] Al Quran 21:31.
[10] Al Quran 17:88.
[11] Laura Veccia Vaglieri. Sebuah Interpretasi Islam. Pertama kali diterbitkan pada tahun 1957. Goodward buku, 2004. Halaman 42-44.
[12] RVC Bodley. Rasul. Hari ganda dan Company Inc, 1946. Halaman 237.
[13] http://www.alislam.org/quran/Quran-and-non-Muslims-20080128MN.pdf
[14] Laura Veccia Vaglieri. Sebuah Interpretasi Islam. Pertama kali diterbitkan pada tahun 1957. Goodward buku, 2004. Halaman 42-44.
[15] Muhammad dan ajaran Quran By Davenport John, Mohammad Amin Diterbitkan oleh Sh. Muhammad Ashraf, 1964. Asli dari University of California, Didigitalkan oleh Google.com pada Des 5, 2008, 127 halaman.
[16] Laura Veccia Vaglieri. Sebuah Interpretasi Islam. Pertama kali diterbitkan pada tahun 1957. Goodward buku, 2004. Halaman 42-44.
[17] Reginald Bosworth Smith, dalam pengantar, Mohammed nya dan Mohammedanism. 1.889 edisi.
[18] Al Quran18: 110.
[19] Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. Karamat-us-Sadiqin, Ruhani Khaza'in, Vol. 7, hlm 60-62.
[20] http://www.alislam.org/quran/

Sumber: IslamForWest.org/

WASPADA LICIKNYA KAUM KAFIR .... MEMURTADKAN UMAT ISLAM DGN BERBAGAI TIPU MUSLIHAT

Ikhwahfillah yang Senantiasa di Rahmati oleh ALLAH TA'ALA ..'
Selain bahaya Ajaran Sesat Syi'ah , maka kita wajib mewaspadai Orang-orang Kristen yang menghalalkan segala cara untuk memurtadkan kaum Muslimin. Di antaranya adalah dengan melalui jalur pernikahan, hamilisasi dan pemerkosaan muslimah. Seperti kasus-kasus berikut :

Di Jakarta Timur, seorang Muslimah (Fatma) terpedaya oleh tipuan Jim, seorang penginjil yang pura-pura masuk Islam untuk menikahinya. Setelah punya dua anak, Jim mulai menampakkan kekristenannya dan berusaha memaksa Fatma untuk pindah agama ke kristen. Setelah diselidiki, barulah terbongkar rahasianya dengan ditemukan ijazah STT Nehemia milik JIM.

Khairiyah Anniswah alias wawah, siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Padang, diculik dan dijebak, diberi minuman perangsang lalu diperkosa oleh aktivis kristen. Setelah tidak berdaya, dia dibaptis dan dikristenkan

Di Bekasi-Jawa Barat, modus pemerkosaan dilakukan lebih jahat lagi. Seorang pemuda Kristen berpura-pura masuk Islam dan menikah dengan gadis Muslimah yang salehah. Setelah menikah, mereka mengadakan hubungan suami istri. Adegan ranjang yang sudah direncanakan itu difoto oleh kawan pemuda kristen itu. Setelah foto dicetak, kepada Muslimah tersebut disodorkan dua pilihan, “Tetap Islam atau pindah ke kristen?” kalau tidak pindah ke kristen, maka foto-foto telanjang sang Muslimah akan disebarluaskan. Karena tidak kuat mental dan tidak kuat Iman, dengan hati berontak dan terpaksa ia mau dibaptis untuk menghindari aib.

Kisah Nyata seorang Ibu bernama Dewi.

“Saya seorang Ibu 29 tahun dan suami 31 tahun. Kami telah dikaruniai dua anak. Yang pertama pria (6), dan kedua putri (2). Kami mmenikah 7 tahun yang lalu, dia adalah teman sekampus saya. Saat pertama mengenalnya, saya benar-benar benci. Maklum, saya lahir dari keluarga Msulim yang taat, sementara dia pemeluk protestan. Tapi entahlah, mungkin karena dia tidak pernah putus asa, saya kemudian menerimanya menjadi pacar. Saya benar-benar semakin saying setelah dia kemudian menerima menikah dalam islam. Saya benar-benar bahagia sekali. Tetapi setelah datangnya anak pertama lalu disusul anak kedua, banyak perubahan yang terjadi pada suami saya. Tiba-tiba dia jarang shalat dan sering keluar tanpa pamit. Belakangan saya tahu ternyata dia tidak benar-benar meninggalkan agamanya. Bahkan, sejak anak kedua kami lahir, secara terang-terangan dia pernah mengatkan kepada saya. “Saya masih seperti dulu, jadi jangan harap ada perubahan”. Mendengar kata-katanya, saya hamper tidak percaya. Suami saya yang tadinya pendiam itu tiba-tiba seperti itu. Yang membuat saya benar-benar takut dan sedih, hari-hari ini, dia sering memaksa saya untuk dating di kebaktian.’ Saya sedang sedih dan bingung. Apa yang seharusnya saya lakukan? Apakah saya harus mempertahankan perkawinan ini? Dan apa hukumnya? Saya ingin Bapak bisa menjawab kesulitan saya” (Dari buku “jejak tokoh islam dalam Kristenisasi”)

Jawabannya: Ibu itu harus bercerai, seorang sahabat Rasululloh bernama Ibnu Abbas berkata: “Apabila wanita Nasrani (Kristen) masuk Islam (lebih dulu) sebelum suaminya sesaat (saja), maka dia haram atas suaminya.”(Shahih Bukhari)



Hadist diatas menunjukkan jika ada suami istri Kristen lalu si istri masuk Islam dan suaminya masih Kristen, maka suami itu haram, rusak pernikahan antara keduanya. Begitu pula jika suaminya murtad atau pura-pura masuk Islam maka rusak pernikahannya.

Rasululloh SAW bersabda, ”mereka (ahli Kitab yakni yahudi dan nasrani) tidak menikahi wanita-wanita kami.” (Diriwayatkan Thabrani)

Masih banyak kasus-kasus serupa di lapangan. Korban-korban pemurtadan melalui pacaran, hamilisasi dan pemerkosaan sudah sangat banyak. Kaum Muslimah harus berhati-hati dalam memilih teman, terlebih lagi dalam memilih calon suami.

Wanita Muslimah dilarang atau haram dinikahi oleh pria kafir dari kalangan Kristen, yahudi atau agama kafir lainnya.

Wanita Muslimah haram dinikahi oleh pria Kristen. Karena Kristen itu kafir dan musyrik. Alloh Ta’ala berfirman (yang artinya): “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Alloh itu ialah Al Masih putera Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Alloh, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?” Kepunyaan Alloh-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu.”(QS. Al Maaidah ayat 17)

Orang kafir itu haram bagi wanita Muslimah. Alloh berfirman (yang artinya): “hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu wanita-wanita yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Alloh lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir dan orang-orang kafir tidak halal pula bagi mereka.”(QS. Al Mumtahanah ayat 10)

“Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik daripada orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke Neraka, sedang Alloh mengajak ke Surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Alloh menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran” (QS. Al Baqarah ayat 221).

Penjelasan Surat Al Baqarah ayat 221:
1. Haram seorang wanita beriman menikah dengan laki-laki kafir secara mutlak
Seorang budak laki-laki yang beriman walaupun ia seorang budak keturunan Ethiopia yang hitam sekali adalah masih jauh lebih baik daripada seorang laki-laki musyrik, kafir walaupun ia punya jabatan atau ketampanan yang membuat kalian tergoda.

“Mereka mengajak ke Neraka”. Maksudnya, bergaul dan berhubungan dengan orang-orang kafir seperti orang Kristen hanya akan membangkitkan kecintaan kepada dunia dan mengutamakan dunia daripada akhirat, melupakan akhirat, apalagi menikah dengan orang Kristen, ini sangat berbahaya, dapat menyeret pada kekafiran karena mereka mengajak kepada kekafiran.

Umar bin Khaththab pernah mengatakan: “lelaki Nasrani (Kristen) tidak boleh menikahi wanita Muslimah.”(Riwayat Ibnu Jarir)

Laki-laki kafir musyrik itu tidak boleh menikahi wanita Muslimah, tidak boleh menggaulinya, karena itu merupakan penghinaan terhadap Islam.

2. Menikahlah dengan Muslim yang Bertakwa
Kesholihan dan ketakwaan adalah dua sifat yang pertama kali harus dicari dari lelaki yang datang melamar seorang wanita. Rasululloh shallAllohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika ada lelaki datang kepada kalian, yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi.”(Hadist riwayat Imam Al Bukhari)

Seorang Ulama bernama Hasan Al Bashri berkata: “Nikahkanlah putrimu dengan lelaki yang bagus agamanya, sebab jika ia mencintai putrimu, ia akan memuliakannya. Tapi jika ia membencinya, ia tidak akan menganiayanya.”

Pada zaman sekarang ini, betapa banyak wanita yang mengeluhkan perlakuan aniaya suaminya. Ini karena di awal mula menikah, ia tidak pintar menentukan pilihan, mereka menikah dengan lelaki yang tidak berakhlak, tidak menunaikan kewajiban yang Alloh tetapkan kepadanya. Pilihannya hanya terbatas pada penampilan lahiriyah saja. Orang-orang yang kagum terhadap orang orang kristen Barat, mengatakan bahwa para wanita Barat menikmati kebahagiaan yang sangat besar bersama suami, namun kenyataan justru sebaliknya. Mari kita lihat data-data yang menunjukkan kekejaman orang-orang barat kristen:

Majalah Time yang terbit di Amerika pernah mempublikasikan, enam juta wanita di Amerika Serikat menderita penganiayaan oleh suaminya per tahun. Sementara 2000-4000 wanita menerima pukulan yang menyebabkan kematian.

Pada tahun 1979, kantor FBI menumumkan, 40% kasus pembunuhan wanita terjadi karena problem rumah tangga. Selain itu, 25% percobaan bunuh diri yang dilakukan wanita dilatari oleh perselisihan keluarga.

Sebuah studi di Amerika yang dilakukan pada tahun 1987 menunjukkan bahwa 79% laki-laki memukul wanita, terutama ketika mereka telah menjadi suami istri. Studi ini berdasarkan survey yang dilakukan Dr. John Beirier, asisten professor ilmu jiwa di Universitas Carolina Selatan kepada mahasiswanya.

Mungkin sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak kejadian di masyarakat seorang wanita islam (muslimah) yang pindah agama gara-gara menikah dengan pria non islam (kristen), dan mereka “terpaksa menikah” karena sudah terlanjur hamil, sementara sang pria hanya mau bertanggungjawab tapi dengan syarat bahwa si wanita berpindah agama. Wanita yang dalam posisi sulit ini, karena jika tidak segera menikah akan menanggung malu, hamil tanpa suami, terpaksa menggadaikan agamanya dan berpindah ke agama suami (kristen).

Nampaknya hal ini memang dilakukan secara sistematis sebagai salah satu strategi pihak kristen untuk memurtadkan umat islam, sebagaimana yang pernah dimuat dalam majalah NIKAH (www.majalah-nikah.com). Meski harus diakui bahwa tidak semua orang kristen sejahat itu, Dan perlu dicatat, jika sebagian besar orang kristen mungkin malah tidak setuju dengan cara hamilisasi untuk menyebarkan agama mereka.

Kisah tragis dan jahat seperti ini bukan hanya Penulis baca dalam majalah-majalah dan berbagai situs islam saja, bahkan kejadian yang mirip terjadi tak jauh dari daerah penulis. seorang wanita muslimah hamil diluar nikah dengan seorang pria Kristen. dan pria itu hanya mau menikahinya jika pernikahan dilakukan di gereja. Akhirnya terpaksa si wanita menyetujuinya karena posisinya yang sulit. Jelas sekali perbuatan pria itu tidak jantan, karena memaksa wanita murtad dengan licik, yaitu dihamili dulu.

Kejadian yang lebih tragis dialami wanita lain yang kubaca dalam majalah nikah, setelah si wanita masuk kristen, ternyata si pria sering menyakitinya dalam rumah tangga (KDRT). bahkan si pria berterus terang akan mencari mangsa baru wanita untuk dipacari lalu dimurtadkan.

Maka nasehat Penulis kepada semua wanita (Muslimah/Ummahat), hati-hatilah jika didekati pria non-islam (kristen, protestan maupun katolik), karena banyak serigala berbulu domba yang berkeliaran, pertama yang mereka curi adalah perhatianmu, lalu hatimu, lalu cintamu, lalu kehormatanmu, dan akhirnya agamamu. Jika agama kita telah hilang, maka kita akan kekal di neraka, karena hanya umat islam yang bisa masuk surga. maka waspadalah.. waspadalah, waspadalah!

Jadi jangan sampai jatuh cinta dengan orang non-islam, karena jika sudah terlanjur cinta maka dengan mudah kalian akan dipacari dan sulit menolak saat dihamili (karena cinta itu buta).. Dan cara agar tidak jatuh cinta dengan mereka adalah menjaga jarak dari mereka, berusaha menghindar, dan lari sejauh-jauhnya.

Karena yang kubaca di majalah itu, si wanita pada awalnya menolak dipacari, tapi si pria selalu bersikap baik dan pantang menyerah dalam mendapatkan cinta wanita itu, akhirnya setelah sekian lama hati si wanita luluh juga, seperti kata pepatah: cinta ada karena biasa, witing tresno jalaran saka kulino. Ternyata pria itu menyembunyikan niat busuk dalam hatinya, karena setelah menghamili wanita itu, dia memaksanya murtad dan setelah menikah ternyata melakukan kekerasan dalam rumah tangga, bahkan mau cari korban baru, berarti selama ini cintanya pada wanita itu palsu. Dia berpura-pura cinta agar dapat memacari, lalu menghamili, setelah itu memaksanya murtad dari agama islam.

Jadi, jangan pernah luluh oleh segala bujuk rayu dan pengorbanan para pria non-islam yang pantang mundur dalam mendekatimu dan berusaha menjadi pacarmu, karena mereka menyimpan rencana jahat yang sangat keji. Cinta mereka palsu, jasad mereka manusia tetapi hati mereka iblis. Jangan terkecoh dengan segala penampilan manis mereka karena semua itu hanya untuk mengelabuhi kalian.

Mereka punya misi keji yang ditutupi dengan segala sikap baik sampai mereka dapat memacari, lalu menghamili kalian, baru akhirnya mereka mengaku bahwa mereka sebenarnya adalah serigala yang berbulu domba, musuh dalam selimut, duri dalam daging, api dalam sekam, pagar makan tanaman, menggunting dalam lipatan, kacang lupa kulitnya..

Sebagai catatan, pernikahan wanita islam dengan pria non-islam adalah tidak sah dalam pandangan islam bagaimanapun balutannya dan serapi apapun namanya, sehingga jika mereka memaksakan untuk terus hidup berumah tangga maka selama itu pula mereka dianggap terus berzina, karena pernikahan mereka dianggap tidak ada dan mereka dianggap belum menikah. Maka berhati hatilah wahai saudariku muslimah dan ummahat.

Kembali Terbukti Firman Alloh:

“Telah nyata kebencian dari mulut mereka, Dan apa yang tersembunyi di dada mereka Lebih besar lagi…..” (QS. Ali Imran:118)

Oleh karena itu Maka Waspadailah Sandi 3 M yakni: Memacari, Menghamili lalu Memurtadkan

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)” (Terjemah QS. An-Nur: 26).

Sumber : http://www.islampos.com/gerakan-hamilisasi-strategi-keji-memurtadkan-muslimah-84731

MENGATASI KESULITAN ALA USTADZ ARIFIN ILHAM

Bila sahabatku tiba-tiba dalam kesulitan, maka berusahalah untuk:
1. Tetap tenang, jangan sekali-kali panik apalagi marah-marah, ingat kesulitan tidak selesai dengan penyesalan dan caci maki,
2. Tingkatkan ketakwaan, "Barang siapa bertakwa kepada Allah, maka Allah tunjukkan jalan keluar baginya dan Allah beri rezeki dari jalan yg tidak terduga." (QS Ath Thalaq: 2-3),
3. Baik sangka pada keputusanNya, semua pasti ada hikmahnya, karena semua diputuskan dengan rahmat, ilmu dan kebijakanNya. "Aku bagaimana prasangka hambaKu" (Hadis Qudsi),
4. Optimis, Insya Allah badai pasti berlalu. Insya Allah di balik kesulitan pasti ada kemudahan,
5. Perhebat istiqfar dan sholawat, di antara dua jalan pembuka dan penolak bala (QS Al Anfal: 33),
6. Diskusikan dengan guru atau hamba Allah yg sholeh,
7. Mohon doa orang tua, guru dan sahabat sholeh,
8. Sedekah sebagai pembuka jalan,
9. Doa sepenuh hati, kekuatan doa merubah takdirNya atas izinNya pula sebagai penghormatan kepada hambaNya yang berdoa kepadaNya,
10.Tawakkal sepenuh hati, "Barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka Allah menjadi penolongnya" (QS Ath Thalaq 4).
Sungguh, sahabatku. Kalau hati ini rindu denganNya dan surgaNya, maka tidak ada lagi masalah yg besar. Sungguh abang bahagia rehat malam ini setelah menyapa kalian dg hikmah ini, dan tentu tetap jangan lupa sebelum tidur berwudhu, berdoa, berzikir dan berazam untuk sholat malam. Allahumma ya Allah tiada yg membuat urusan menjadi mudah kecuali hanya Engkau, mudahkanlah urusan kami...wahai Penguasa atas segala keadaan....aamiin.
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Blog's Muslimah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger